Posts

Ayah? Engkau Malaikat Tak Bersayap

Ayah memang tidak pernah mengandungmu, tapi dalam darahmu mengalir darahnya. Engkau anak kandungnya, orang yang paling dicintainya. Ayah memang tidak pernah melahirkanmu, tapi senyum manisnyalah yang pertama kali engkau lihat ketika terlahir di dunia. Engkau kebahagiaannya, sumber tawa dan juga tangisnya. Ayah memang tidak pernah menyusuimu, tapi dari jerih payah keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu. Engkau energi kehidupannya, salah satu alasan terbesarnya untuk terus hidup. Ayah memang tidak pandai menina-bobokanmu agar kau tertidur, tapi dialah yang menjamin kau tetap aman dalam lelapmu. Engkau adalah amanah Allah, titipan berharga yang dijaga dengan taruhan nyawanya. Ayah memang tidak menggendongmu selama ibumu, mendekapmu seerat ibumu, tapi yakinlah ia akan menjadi orang terakhir yang terus berdiri mencintaimu, disaat semua orang beranjak meninggalkanmu. Engkau bagian dari raganya, permata di dalam hatinya. Ayah tidak pernah kau lihat menangis, bukan kar...

Puisi Mamah Tercinta

Mama Tercinta Karya HAN Kubuka Lebar Perjalanan Hidupku Selepas Dari BuayaianMu Perjalanan Tentang Hidupku Tanpa SosokMu Apakah Kan Indah yang Kujalani Kini? Pemikiran Yang Kelam Hidup Tanpa mu Apakah Seindah Pelangi Sesudah Hujan Kan Mentari, atau? Seperti Serpihan Kaca Menusuk Lapisan Berduri Demi Mimpi Hari Esokkan Indah Bersama mu? Ku Hadapi itu Tanpa Peduli Mimipi Kan Hari Tua Melihat Senyum BahagiaMu Memiliki Arti Tersendiri Dalam DuniakuMimpiku Bila Waktu Berkenan Untuk Bersua Kan Ku Tempuh Tanpa Bersuara Mamah Burung Merpati Putih Yang Dulu Engkau Pelihara Kini Besar Meninggalkan kandangnya Terbang Tinggi Mengepakan Sayapnya Meski Tak Tau Hinggapan Mana Kan Dihinggapinya Adakah Naungan? Nanti Kan Bahagia Mama Sekedar info mengenai penulis Hamidi Azis Nasution sang Pelakon kehidupan . Berdarah Batak, besar dinegeri melayu riau. Mungkin sampai sekarang saya adalah tokoh yang masih penuh dengan mimpi di Indonesia.  tidak banyak orang yang menge...

Esok Mungkin Bersama-Mu

Indah berbalut tawa Senyum berpeluk materi Talenta berpeluk prestasi Paras berpeluk kecantikan Dan jiwa berpeluk angan akan kesenangan Bagaimana? Ketika senyum habis dimakan waktu Prestasi hanya sekedar nama Cantik hanya tinggal bekas yang percuma   Masih kah kau bangga? Dari kenikmatan yang diberikan-Nya Nyatanyankau anggap sia sia Masihkah kaubtertawa? Katika waktu sudah sampai di depan mata Masihkah kau bahagia? Jika pakaian indahmu yang sementara Berubah menjadi kain putih Yang kau kenakan selamanya   Kembali.... Kembalilah Kepada-Nya yang membuatmu teduh Kepada-Nya yang memberikanmu cinta Dari pada-Nya Yang memberi kau anugerah Yang belum sempat kau mensyukurinya   Hingga nanti tiba Mata ini tertutup Tertutup dalam kehinaan Tertutup dalam kemungkaran Mencoba berteriak dengan resah Meminta ampun berteriak Dan berteriak Tetapi kita lupa Waktu telah samapi di depan mata Dengan persiapan diri menghadap-Nya Menangis penuh kecewa Akhirnya..... Putusan allah telah ...

Kangker Perut Berawal Dari Perut Buncit

Kanker perut dimulai saat sel kanker terbentuk di lapisan dalam perut Anda. Sel ini bisa tumbuh menjadi tumor. Disebut juga kanker lambung, penyakit ini biasanya tumbuh perlahan selama bertahun-tahun. Jika Anda tahu gejala yang ditimbulkannya, Anda dan dokter Anda mungkin bisa menemukannya lebih awal, kapan ini paling mudah untuk diobati. Risikonya tak tanggung-tanggung, yaitu mencapai 60-80 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang  bisa mempertahankan berat badannya hingga beberapa waktu ke depan. Kendati begitu, risiko terbesar akan dihadapi oleh individu yang sudah mengalami kegemukan di usia 20 dan obesitas di usia 50 tahun atau meningkat dari tahun ke tahun, yaitu tiga kali lipat. "Jadi risiko kankernya tidak hanya pada orang yang sudah gemuk sepanjang waktu, tetapi juga yang beratnya terus naik. Untuk itu kita harus melakukan banyak hal agar bisa mempertahankan bobot sehat kita," katanya. Meski demikian, kanker kerongkongan dan kanker perut terbilang masi...

Puisi Kau Yang Terindah

Ketika kulihat kau lebih dalam Wajahmu begitu menawan Indah nan rupawan Seolah seperti kenyamanan Ketika kulihat kau terdiam Tersimpan dalam perlindungan yang menyejukkan Bukan untuk diperlihatkan Apalagi untuk dipublikasikan Tetaplah menjadi permata nan indah dan terjaga Indah mu akan menjadi lebih indah Ketika kau mampu menjaganya Dari pandangan massa di luar sana Cantikmu akan lebih cantik Ketika kau mampu menjaganya Dari tatapan khalayak yang luluh akan parasmu nan luar biasa Dan akhlakmu akan lebih baik Ketika kau tepat mempergunakannya Sekedar info mengenai penulis Hamidi Azis Nasution sang Pelakon kehidupan . Berdarah Batak, besar dinegeri melayu riau. Mungkin sampai sekarang saya adalah tokoh yang masih penuh dengan mimpi di Indonesia.  tidak banyak orang yang mengerti mengenai perjalanan hidup saya, jatuh bangunnya perjuangan yang dirasakan merupakan rujukan hidup yang sesungguhnya. Seorang ibu pengendali dibelakang saya seorang ibu yang mampu mengkokohkan tun...

Upayaku Mendengar-Mu

Dimanapun kaki berpijak Kemanapun aral melintang mencari tujuannya Sikap akan telihat oleh banyak mata Melihat tindakan mereka yang tersapu membersihkanku Atau justru terlontar menggonggong Dengan terkaman yang tajam Seketika itu..... Upayaku hanya satu Yaitu...... Mendengarkan-Mu Walau terlontar beriringan Baik menyayat dengan tajam Menghapus secara perlahan Atau tersirat syahdu yang menghanyutkan Akupun mulai paham Ketika pedangku menancap begitu dalam Meninggalkan bekas yang memerihkan Luka akan tertutup Dengan upayamu menyertaiku Menutupi kekuranganku Dan luka itu akan rekah Ketika kau menggoresku Tidak menutupku Tetapi justru menambah perihku Maka upayaku akan kembali seperti dulu Yaitu.... Mendengarkan-Mu Sekedar info mengenai penulis Hamidi Azis Nasution sang Pelakon kehidupan . Berdarah Batak, besar dinegeri melayu riau. Mungkin sampai sekarang saya adalah tokoh yang masih penuh dengan mimpi di Indonesia.  tidak banyak orang yang mengerti mengenai perjalanan hidup s...

Maaf jika aku tak seasik dulu

Maaf.... Beribu maaf yang kuhaturkan Menepis kekecewaanmu kepadaku Yang kau anggap tidak sama seperti dulu Aku yang dulu bisa diajak kekinian Aku yang bisa diajak tertawa kegirangan Dan aku yang mungkin serba kekurangan Maaf... Jika aku tak seasik dulu Apresiasi yang kau berikan untukku Seolah mengajakku Tetapi nyatanya..... Sesuatu hal yang telah kau berikan Adalah kata yang bernada kecewa Kau seolah bercerita Memberikan pertanda Pertanda yang sempat membuatku Menjadi gelap dan kelabu Seolah kau anggap aku tabu Tak peduli akan perkembangan duniaku Walau duri yang bertebaran Penghalang yang bersambutan Pada nyatanya.... Aral itu telah sampai dibenakku Meski sebenarnya langkah belum sampai pada tujuan Masih banyak sebuah angan yang bertebaran Yang belum mempunyai posisi yang begitu tegak Karena taliku masih panjang Masih banyak janji yang belum terstupadukan Yang berdiri pada kebenaran Hingga keputusan akhirku Berpegang pada tiang yang meneguhkan Bukan daun yang bertebaran Apalagi seked...